
Jakarta, samsspringroll Indonesia
—
Kopi
menjadi salah satu komoditas
pertanian
yang banyak diperdagangkan di dunia. Di balik harumnya aroma secangkir kopi, ada beragam jenis biji kopi dengan karakternya masing-masing.
Taste Atlas memperbarui daftar biji kopi terbaik di dunia 2026. Biji kopi asal Indonesia masuk dalam jajaran lima besar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Istilah biji kopi terbaik di dunia tak merujuk pada jenis kopi tertentu, melainkan kumpulan biji kopi yang dikenal memiliki cita rasa yang unggul dan reputasi tinggi di kalangan penikmat.
Seiring berkembangnya budaya
specialty coffee
, semakin banyak negara penghasil kopi karena dianggap menghasilkan biji berkualitas tinggi. Termasuk salah satunya Indonesia.
Biji kopi Arabika Gayo dari Aceh berhasil duduk di posisi lima dalam daftar biji kopi terbaik di dunia. Biji kopi satu ini dibudidayakan di daerah dataran tinggi Gayo, Aceh.
“Kopi ini dikenal karena rasanya yang bersih, kekentalan sedang hingga penuh, dan keasaman rendah, sering kali dengan aroma herbal, tanah, atau spicy,” tulis
Taste Atlas
.
Kopi satu ini dianggap sebagai salah satu kopi Arabika Indonesia yang paling dikenal dan telah dianugerahi status Indikasi Geografis (IG) oleh pemerintah.
Budidaya kopi Arabika di wilayah Gayo dimulai pada awal abad ke-20, selama masa kolonial Belanda. Seiring berjalannya waktu, budidaya kopi berkembang menjadi kegiatan ekonomi utama.
Ketinggian wilayah Gayo, yang berkisar antara 1.200-1.700 mdpl, bersama dengan tanah vulkaniknya, sangat cocok untuk dijadikan tempat budidaya biji kopi Arabika berkualitas tinggi.
Kopi Gayo biasanya diproses dengan metode giling basah. Metode ini melibatkan pengeringan sebagian biji sebelum pengupasan, untuk kemudian menyelesaikan proses pengeringan setelahnya.
“Hasilnya adalah profil rasa unik yang menekankan kaya rasa di mulut dan nuansa ‘tanah’ yang dalam,” tulis Taste Atlas.
Berikut daftar 10 biji kopi terbaik di dunia versi Taste Atlas:
1. Cafe de Colombia (Kolombia)
2. Arabika (Ethiopia)
3. Jamaican blue mountain coffee (Jamaika)
4. Robusta (Republik Demokratik Kongo)
5. Kopi arabika Gayo (Indonesia)
6. Kafae doi chaang (Thailand)
7. Huehuetenango highland coffee (Guatemala)
8. Harenna forest wild coffee (Ethiopia)
9. Cafe de valdesia (Republik Dominika)
10. Kafae doi tung (Thailand)
(asr)
Add
as a preferred
source on Google
Baca lagi: Prabowo Cerita Pernah Larang Sejumlah BUMN Dijual ke Asing, Apa Saja?
Baca lagi: Honda Bantah Vario Evo 160 Saingan Yamaha Aerox 155
Baca lagi: Perjalanan 4 Tahun Hubungan IU dan Lee Jong-suk Berujung Putus




9 Responses
Ngebantu banget penjelasannya, mantap! Sekalian share aja, buat kalian yang butuh materi serupa bisa cek https://kldp.org/comment/250048 saya dapet banyak info juga dari sana.
Keren artikelnya, penyampaiannya asik dan bikin gampang nangkep maksudnya. Buat nambah-nambah referensi, website https://kldp.org/comment/384004 juga ngobrolin topik yang persis kayak gini.
Terima kasih atas informasinya, ulasan di atas sangat membantu saya memahami topik ini. Kebetulan saya juga menjumpai https://kldp.org/node/60017?destination=node/60017%3Fpage%3D0 yang mengupas bahasan sejenis dengan mendetail.
Pembahasan yang sangat relevan sama kondisi sekarang. Kalau mau cari perbandingan artikel, di https://www.newswire.co.kr/newsRead.php?no=285441 juga ada ulasan yang komprehensif banget.
Akhirnya ketemu tulisan yang membedah masalah ini dengan tuntas. Sangat membantu riset kecil saya! Btw, ada ulasan pelengkap yang lumayan oke juga di https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297263405_htm
Akhirnya ketemu tulisan yang membedah masalah ini dengan tuntas. Sangat membantu riset kecil saya! Btw, ada ulasan pelengkap yang lumayan oke juga di https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320240008_htm
spaceman slot terbaik main di crazyrich88
untung88 sebagai slot thailandterpercaya
Penjelasan yang sangat menarik dan memberikan perspektif baru buat saya. Terima kasih banyak admin! Kebetulan saya juga nemu info serupa yang dibahas mendalam di https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320543675_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297441916_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297539893_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297289339_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297133049_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320129065_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297314318_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F296883726_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297266956_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297099185_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297422385_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297062887_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297256978_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297137983_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297533328_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297104409_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297374348_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297299967_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297020749_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320556779_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320593359_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320743614_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320480777_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320333750_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F296956732_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320059738_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297519165_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320672786_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320383450_htm sebagai referensi tambahan.